Senin, 18 Apr 2022, 09:08:40 WIB, 152 View Administrator, Kategori : Teknologi

(cyberblitar) Udeng Joko Pangon yang bermotif Puspa Dahana adalah sebuah Udeng yang diinisiasi oleh Mahasiswa UNESA Peserta Program Wiradesa bersama Kampoeng Cyber Blitar, Udeng ini merupakan produk turunan dari Motif Batik Puspa Dahana yang dihasilkan dari kajian dan penelitian terhadap Candi Gedog dan Folklor Joko Pangon. Mahasiswa UNESA dalam melaksanakan Wiradesa selama 6 bulan di Kelurahan Gedog dengan pendampingan Kampoeng Cyber akhirnya memunculkan Motif Batik Puspa Dahana tersebut, kemudian dibuat produk turunan Udeng yang diberi nama "Joko Pangon".

Motif Batik Puspa Dahana adalah perpaduan dari hasil kajian Candi Gedog sebagai peninggalan sejarah klasik sekaligus dipercaya menjadi landasan terciptanya folklore Joko Pangon ditampilkan dalam setiap motif yang ada pada gambar di atas. Motif-motif tersebut diantaranya: agni, lung patra, ombak banyu, suluran, wos wutah, damar kambang, plisir pasagen, sekar tanjung, prapen, dan ilat-ilat dahana. Setiap motif tersebut mempunyai filosofi yang telah dikurasi oleh Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dari tata bahasa dan maknanya, adapun secara singkat mungkin dapat disampaikan sebagai berikut :

  1. Api Sulut Lima, Ragam hias api dalam motif puspa dahana diambil dari siras cakra yang ditemukan ketika eskavasi Candi Gedog. Api menjadi salah satu komponen penting karena dianggap sebagai media penyucian. Setiap persembahan atau upacara, masyarakat Jawa kuna selalu menggunakan api sebagai sarana memusakakan sesaji dan puja. Dalam motif puspa dahana, api menjadi icon terpenting untuk memaknai filosofi yang terkandung didalamnya. Berbeda dengan siras cakra, api dalam motif puspa dahana memiliki sulut berjumlah lima. Sulut lima bisa dimaknai dengan berbagai makna diantaranya sebagai simbol nafsu manusia, malima, dan Pancasila;
  2. Lung patra dan suluran yang ada di tengah merupakan lambang dari elemen tanaman. Manusia dalam hidupnya senantiasa memerlukan tanaman untuk kelangsungan hidupnya.Tanaman juga kunci dari keseimbangan alam. Contohnya adalah ketika hutan gundul yang terjadi adalah banjir, tanah longsor, dan hilangnya mata air.
  3. Damar Kambang, Ombak Banyu dan Lambang Tanah, Ombak banyu merupakan simbol dari anasir air dan lambang tanah merupakan simbol dari bumi. Kedua anasir ini merupakan elemen yang saling berkaitan. Tanah yang terkena air akan menumbuhkan tanaman, tanaman menjadi sumber makanan bagi seluruh makhluk hidup. Dari tanaman akan mengikat sumber air yang disimpan dan dilindungi oleh tanah, sehingga keduanya memegang peran penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlangsungan hidup semua makhluk di bumi. Damar kambang atau damar yang mengapung pada samudra adalah simbol dat urip atau roh manusia sebelum masuk pada badan wadhag (raga). Menurut kepercayaan Jawa, roh manusia yang masih dalam genggaman Tuhan berwujud seperti damar kambang. Roh yang mengapung dalam alam sunya yang diibaratkan sebagai samudra yang luas adalah roh yang menanti titah Tuhan untuk melakukan darma atau menebus karma (dalam konsep reinkarnasi) di dunia atau yang disebut alam padhang.
  4. Woh Wutah dan Simbol Raga, Api Sulut Tiga, Wos wutah atau beras kutah yang dalam bahasa Indonesia adalah beras yang berceceran adalah simbol dari kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksud adalah kesejahteraan pangan yang membawa pada masyarakat adil dan makmur. Dalam ragam hias tersbut, wos wutah berada dalam empat wadah melintang yang mengelilingi punjer atau motif tengah-tengah. Empat wadah tersebut dapat dimaknai sebagai badan wadhag atau raga manusia. Motif tengah yang terdiri dari sulur, dan api sulut tiga merupakan gambaran dari atma atau roh dari manusia. Adanya sulur yang mengambil motif majapahitan ini berarti olah cipta manusia, adanya api empat penjuru yang memancarkan dua api bersulut tiga merupakan olah rasa manusia, dan sulur dalam api merupakan karsa manusia. Adanya olah cipta, rasa dan karsa merupakan tanda bahwa manusia itu sadar akan tugas dan kwajiban sebagai manusia.
  5. Sekar Tanjung, Sekar tanjung sebenarnya hanya ingin memanifestasikan sebuah temuan fragmen tokoh yang diindikasikan sebagai fragmen potongan dari relief Sritanjung. Jika dilihat dari makna filosofis, tanjung adalah jarwa dhosok dari tandan njung. Tan dari kata datan yang berarti tidak dan njung dari kata munjungyang berarti tumpukan yang sangat tinggi. Kata datan munjung bisa diartikan sebagai kesederhanaan atau keinginan yang tidak terlalu “muluk-muluk”. Berawal dari kesederhanaan akan membawa pada kemashuran dan keberhasilan.
  6. Prapen, Prapen atau perapian artinya adalah tungku pembakaran. Motif tungku pembakaran ini diambil dari salah satu mata pencaharian masyarakat Gedog dulu, yaitu pandai besi. Dalam folklor yang beredar di masyarakat, nama Gedog sendiri berasal dari suara pukulan palu “dhog..dhog..dhog” dari pandai besi. Sehingga suara itu memunculkan nama Gedog.

Dari Makna tersebut diatas kemudian diwujudkan dalam bentuk udeng Segi Empat berukuran 1 Meter x 1 Meter yang dalam penggunaannya utuh persegi empat tidak bisa di potong setengahnya menjadi segitiga atau yang lainnya, karena tentu akan menghilangkan makna dan filosofi dari Motif Puspa Dahana dan Udeng Joko Pangon itu sendiri, dan saat diterapkan menjadi sebuah Pakaian Tradisional Identitas tentu sudah tidak bermakna identitas lagi, selain itu dalam HAKI tertuang proses, bentuk dan corak serta motif Puspa Dahana tersebut, mudah - mudahan dengan memahami hal tersebut keberadaan Motif Batik Puspa Dahana tetap dapat dilestarikan dan dimaknai dengan bijaksana oleh semua pihak.





Tuliskan Komentar